Mengapa Reactive Marketing Menjadi Strategi Penting bagi Brand di Media Sosial?

Daftar Isi

Bagikan Artikel Ini

Peluncuran iPhone Duo tidak hanya menarik perhatian konsumen, tetapi juga menjadi bahan percakapan bagi sejumlah brand. Samsung, Duolingo, dan berbagai akun lainnya ikut merespons melalui konten bernada sindiran dan humor.

Samsung memanfaatkan posisinya sebagai pemain yang lebih dahulu mengembangkan perangkat lipat. Sementara itu, Duolingo menggunakan kemiripan nama “Duo” dengan maskotnya untuk ikut masuk ke dalam percakapan. Respons tersebut memperlihatkan bahwa perhatian terhadap suatu peristiwa dapat dimanfaatkan oleh brand lain tanpa harus menjadi bagian dari campaign utamanya.

Dalam marketing, strategi tersebut dikenal sebagai reactive marketing. Namun, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh kecepatan mengikuti tren. Brand juga perlu memastikan bahwa respons yang diberikan tetap relevan dengan produk, karakter komunikasi, dan audiensnya.

Reactive Marketing Bukan Sekadar Mengikuti Tren

Reactive marketing merupakan strategi ketika brand membuat konten sebagai respons terhadap peristiwa, berita, atau percakapan yang sedang berkembang. Berbeda dengan konten reguler yang telah disiapkan dalam kalender pemasaran, reactive marketing menuntut brand untuk membaca situasi dan mengambil keputusan dalam waktu relatif singkat.

Menurut Brandwatch, reactive marketing dapat berbentuk unggahan spontan, iklan, maupun video yang merespons peristiwa terkini. Strategi tersebut digunakan untuk mendorong interaksi sekaligus membuat brand tetap terhubung dengan percakapan audiens.

Meskipun demikian, reactive marketing bukan berarti brand perlu menanggapi semua topik yang sedang ramai. Tren hanya menyediakan perhatian yang sudah terkumpul. Brand tetap perlu menemukan hubungan antara perhatian tersebut dengan produk, identitas, atau kebutuhan audiensnya.

Tanpa hubungan yang jelas, konten mungkin mendapatkan views, likes, dan komentar, tetapi belum tentu membuat audiens memahami pesan yang ingin disampaikan. Oleh karena itu, keberhasilannya tidak cukup dinilai dari seberapa ramai sebuah unggahan. Brand juga perlu melihat apakah konten tersebut memperkuat positioning dan membuatnya lebih mudah diingat.

Mengapa Brand Perlu Masuk dalam Percakapan Audiens?

Social media membuat percakapan berkembang dengan cepat. Sebuah peluncuran produk, adegan film, pertandingan olahraga, maupun kejadian tertentu dapat berubah menjadi bahan diskusi dalam waktu singkat. Ketika topiknya sesuai, reactive marketing memberi kesempatan bagi brand untuk hadir di tengah percakapan yang sudah berlangsung.

Hal tersebut penting karena brand tidak selalu harus memulai perhatian dari awal. Audiens telah mengenal topik yang dibicarakan sehingga brand dapat memusatkan konten pada sudut pandang yang ingin ditambahkan. Respons yang tepat juga membuat komunikasi terasa lebih aktual dibandingkan unggahan promosi yang berdiri sendiri.

Reactive marketing juga dapat memperlihatkan karakter sebuah brand. Pilihan kata, sudut pandang, dan cara menanggapi tren membantu audiens memahami bagaimana sebuah brand berkomunikasi. Karakter tersebut dapat menjadi pembeda ketika banyak perusahaan menawarkan produk dengan fungsi yang hampir sama.

Namun, masuk ke dalam percakapan bukan berarti mengambil alih topik atau memaksakan promosi. Brand perlu memberikan sesuatu yang sesuai dengan konteks, seperti humor, informasi, atau perspektif baru. Jika respons hanya menempelkan produk pada tren tanpa hubungan yang jelas, audiens justru dapat melihatnya sebagai upaya mencari perhatian.

Belajar dari Respons Samsung dan Duolingo terhadap iPhone Duo

Apple memperkenalkan iPhone Duo sebagai iPhone lipat pertamanya. Berdasarkan informasi dari Apple Newsroom, perangkat tersebut memiliki layar bagian dalam berukuran 7,6 inci dan dirancang untuk mendukung penggunaan beberapa aplikasi melalui tampilan yang lebih luas. Peluncuran ini menjadi perhatian karena Apple memasuki kategori perangkat lipat yang sebelumnya telah dikembangkan oleh beberapa produsen Android.

Samsung kemudian menggunakan momentum tersebut untuk menyinggung pengalaman Apple di pasar perangkat lipat. Respons tersebut relevan karena Samsung merupakan kompetitor langsung dan telah lebih dahulu menghadirkan produk pada kategori yang sama. Di balik unsur humor, terdapat pesan mengenai posisi Samsung sebagai pemain yang lebih berpengalaman dalam pengembangan perangkat lipat.

Duolingo menggunakan pendekatan berbeda. Aplikasi pembelajaran bahasa tersebut tidak memiliki hubungan langsung dengan industri smartphone. Namun, nama “Duo” pada produk Apple memberikan celah bagi Duolingo untuk menghubungkannya dengan nama maskot mereka.

Menurut Android Central, Samsung dan Duolingo memberikan respons bernada jenaka terhadap peluncuran iPhone Duo. Respons itu kemudian berkembang menjadi interaksi antarbrand yang turut menarik perhatian pengguna media sosial.

Dari contoh tersebut terlihat bahwa relevansi tidak selalu berasal dari kesamaan produk. Samsung memiliki relevansi kategori, sedangkan Duolingo mempunyai relevansi karakter. Keduanya dapat masuk ke dalam percakapan yang sama menggunakan alasan dan pendekatan yang berbeda.

Relevansi Lebih Penting daripada Kecepatan

Kecepatan memang menjadi salah satu unsur penting dalam reactive marketing. Respons yang diterbitkan terlalu lama setelah sebuah topik ramai berisiko kehilangan momentum. Akan tetapi, menjadi cepat tidak selalu membuat konten menjadi relevan. Sehingga, bagi tim marketing penting untuk memerikasa tiga bentuk relevansi seperti berikut:

  1. Relevansi kategori  yaitu hubungan antara topik dengan produk atau industrinya. Hubungan inilah yang membuat respons Samsung terhadap iPhone Duo dapat dipahami dengan cepat.
  2. Relevansi karakter yaitu Brand perlu memastikan bahwa gaya humor, pilihan kata, dan bentuk respons sesuai dengan identitas yang selama ini dibangun. Duolingo dapat menggunakan pendekatan jenaka karena audiens telah mengenal karakter komunikasinya di media sosial.
  3. Relevansi audiens yaiu Topik yang ramai secara luas belum tentu penting bagi target pasar tertentu. Brand perlu memahami apakah audiensnya mengetahui konteks tren tersebut serta apakah respons yang diberikan dapat menawarkan hiburan, informasi, atau sudut pandang baru.

Jika tidak memiliki salah satu hubungan tersebut, melewatkan tren dapat menjadi pilihan yang lebih tepat. Memaksakan respons berisiko membuat konten terlihat sama dengan unggahan brand lain. Audiens mungkin mengingat lelucon atau trennya, tetapi tidak mengingat siapa yang mengunggahnya.

Kesimpulan

Reactive marketing pada akhirnya bukan perlombaan menjadi akun pertama yang memberikan respons. Sebab strategi ini perlu dirancang agar momentum yang sedang ramai dapat dihubungkan dengan cerita, nilai, dan tujuan bisnis brand. Dengan demikian, konten tidak hanya menghasilkan interaksi sesaat, tetapi juga membantu audiens mengenal karakter brand secara lebih kuat.

Untuk mewujudkannya, perusahaan dapat bekerja sama dengan partner yang memahami strategi dan eksekusi brand activation. Quadrant Communication membantu bisnis merancang aktivasi melalui berbagai channel digital secara relevan, terukur, dan sesuai dengan target audiens. Jika bisnis Anda membutuhkan strategi untuk mengubah momentum menjadi pengalaman brand yang lebih bermakna, Anda dapat berkonsultasi dengan Quadrant Communication.