Berapa Banyak UMKM yang Sudah Go Digital? Ini Peluang Digital Marketingnya

Daftar Isi

Bagikan Artikel Ini

Mengembangkan usaha melalui kanal digital membutuhkan lebih dari sekadar membuat akun media sosial. Pelaku UMKM perlu menyiapkan informasi produk, mengelola komunikasi dengan pelanggan, dan menjalankan pemasaran secara konsisten. Sementara itu, kegiatan produksi dan pelayanan sehari-hari tetap harus berjalan.

Lalu, berapa banyak UMKM yang sudah go digital? Dalam siaran pers Agustus 2024, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut 27 juta UMKM telah mengadopsi teknologi digital. Saat itu, pemerintah menargetkan jumlahnya mencapai 30 juta UMKM pada 2024. Angka 30 juta tersebut merupakan target, sehingga perlu dibedakan dari realisasi yang diumumkan.

Besarnya jumlah tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi sudah menjadi bagian dari kegiatan banyak usaha. Bagi pemilik bisnis, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana langkah UMKM go digital dapat didukung pemasaran yang membantu menjangkau dan melayani pelanggan.

Berapa Banyak UMKM yang Sudah Go Digital di Indonesia?

Angka 27 juta UMKM yang disampaikan Kominfo pada Agustus 2024 dapat menjadi acuan untuk memahami skala adopsi teknologi digital. Namun, periode datanya perlu disebutkan agar pembaca tidak menganggapnya sebagai jumlah terbaru pada saat artikel dibaca.

Untuk melihat aktivitas penjualan online, terdapat data lain dari Badan Pusat Statistik. Menurut laporan Statistik E-Commerce 2024 yang dirangkum Databoks, jumlah usaha e-commerce di Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 4,4 juta unit usaha. Cakupannya meliputi usaha yang berjualan atau menerima pesanan secara online melalui marketplace, media sosial, aplikasi pesan instan, email, maupun situs web.

Kedua angka tersebut mengukur hal yang berbeda. Data adopsi teknologi digital menggambarkan pemanfaatan teknologi oleh UMKM, sedangkan data usaha e-commerce berkaitan dengan kegiatan penjualan atau penerimaan pesanan melalui internet. Karena itu, keduanya tidak dapat dibandingkan langsung untuk menyimpulkan kenaikan atau penurunan jumlah UMKM go digital.

Bagi pelaku usaha, data ini menjadi pengingat bahwa kehadiran digital perlu memiliki tujuan yang jelas. Bisnis perlu menentukan apakah teknologi digunakan untuk memperbaiki pencatatan, memudahkan pemesanan, memperluas pemasaran, atau mendukung beberapa kebutuhan sekaligus.

UMKM Go Digital Mencakup Operasional dan Pemasaran

Pemanfaatan teknologi dapat dimulai dari kebutuhan sehari-hari. Usaha makanan, misalnya, dapat memakai aplikasi untuk mencatat transaksi, menyediakan katalog digital, serta menerima pesanan melalui WhatsApp. Sementara itu, usaha kerajinan dapat menggunakan media sosial untuk memperkenalkan produk dan mengarahkan pelanggan menuju kanal pemesanan.

Pada Oktober 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital memperkenalkan strategi Go Modern, Go Digital, dan Go Online. Go Modern berkaitan dengan profesionalisasi usaha, branding, dan kualitas produk. Go Digital mencakup pemanfaatan aplikasi serta otomasi proses bisnis. Adapun Go Online berfokus pada penggunaan media sosial, marketplace, dan website untuk memperluas pasar.

Kerangka tersebut membantu pelaku UMKM melihat hubungan antara kesiapan usaha dan pemasaran. Promosi yang menarik perlu didukung informasi produk yang lengkap, pelayanan yang responsif, serta proses pemesanan yang mudah dipahami.

Sebagai contoh, usaha catering yang aktif mengunggah foto makanan tetap perlu mencantumkan pilihan menu, minimum pemesanan, area pengiriman, dan cara menghubungi admin. Informasi tersebut membantu calon pelanggan menilai kesesuaian layanan sebelum mengajukan pertanyaan atau memesan.

Dengan demikian, langkah UMKM go digital dapat dibangun secara bertahap berdasarkan persoalan yang paling sering dihadapi bisnis.

Baca Juga: ChatGPT Ads: Era Baru Iklan Digital Berbasis Percakapan?

Peluang Digital Marketing bagi UMKM

Data BPS menunjukkan bahwa pada 2024, 94,76% usaha e-commerce menggunakan aplikasi pesan instan sebagai media penjualan. Sementara itu, 29,66% menggunakan media sosial dan 17,23% menggunakan marketplace. Persentase tersebut tidak perlu dijumlahkan menjadi 100% karena satu usaha dapat menggunakan beberapa saluran. Angka ini juga berlaku untuk usaha e-commerce dalam cakupan survei, bukan seluruh UMKM Indonesia.

Dari pola tersebut, pelaku UMKM dapat mempertimbangkan pemasaran yang menghubungkan konten dengan komunikasi pelanggan. Media sosial digunakan untuk memperkenalkan produk, sedangkan aplikasi pesan instan dapat menjadi tempat pelanggan bertanya dan melanjutkan pemesanan.

Peluang pertama adalah memperjelas nilai produk. Konten dapat menjelaskan kegunaan, bahan, ukuran, pilihan paket, atau situasi ketika produk dibutuhkan. Informasi ini membantu calon pelanggan memahami alasan memilih produk tersebut.

Peluang berikutnya adalah membangun kepercayaan. Dokumentasi proses produksi, testimoni dengan izin pelanggan, dan informasi usaha yang jelas dapat membantu pelanggan mengenali bisnis sebelum membeli. Komdigi dalam pembahasan strategi 3Go juga menekankan pentingnya kepercayaan konsumen dalam social selling.

Selain itu, konten dapat mendukung proses pemesanan. Usaha catering, misalnya, dapat membuat unggahan tentang paket rapat, pilihan nasi box, dan batas waktu pemesanan. Setiap konten kemudian dilengkapi arahan untuk melihat katalog atau menghubungi admin.

Peluang tersebut tetap perlu diuji pada masing-masing bisnis. Banyaknya pengguna suatu kanal tidak otomatis menjamin penjualan. Hasil pemasaran dipengaruhi oleh kesesuaian produk, target pelanggan, harga, kualitas konten, dan pelayanan.

Cara Memanfaatkan Media Sosial untuk Mendukung UMKM Go Digital

Agar pemasaran lebih terarah, pelaku UMKM dapat memulai dengan menentukan target pelanggan. Usaha catering untuk kebutuhan kantor, misalnya, perlu menampilkan informasi berbeda dari usaha makanan yang menyasar pembeli perorangan.

Setelah itu, pilih platform yang sesuai dengan kebiasaan pelanggan dan kemampuan tim. Bisnis juga perlu mempertimbangkan waktu yang tersedia untuk membuat konten serta merespons pertanyaan.

Langkah berikutnya adalah menyusun kalender konten. Topiknya dapat mencakup informasi produk, jawaban atas pertanyaan pelanggan, testimoni, proses produksi, dan promosi. Perencanaan ini membantu bisnis menyiapkan materi tanpa harus mencari ide setiap hari.

Pengelolaan komunikasi juga perlu diperhatikan. Komentar dan pesan masuk dapat berisi pertanyaan tentang harga, stok, pengiriman, atau keluhan. Siapkan informasi yang konsisten agar pelanggan memperoleh jawaban yang jelas.

Terakhir, lakukan evaluasi berdasarkan tujuan pemasaran. Beberapa indikator yang dapat dipantau meliputi:

  • Jangkauan konten untuk melihat penyebaran informasi.
  • Kunjungan profil untuk mengetahui ketertarikan terhadap bisnis.
  • Klik menuju WhatsApp atau halaman pemesanan.
  • Pertanyaan masuk dari calon pelanggan.
  • Pesanan yang sumbernya dapat ditelusuri.

Hasil evaluasi dapat digunakan untuk memperbaiki konten berikutnya. Jika pelanggan sering menanyakan informasi yang sama, misalnya, bisnis dapat membuat unggahan khusus atau memperbarui katalog agar informasi tersebut lebih mudah ditemukan.

Baca Juga: KOL Marketing: Panduan Strategi Lengkap untuk Melejitkan Penjualan di 2026

Kelola Pemasaran Lebih Terarah bersama Quadrant Communication

Data adopsi digital menunjukkan bahwa jutaan UMKM telah memanfaatkan teknologi. Namun, pengelolaan pemasaran tetap membutuhkan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi agar sesuai dengan kebutuhan usaha.

Bagi pemilik UMKM, pekerjaan tersebut sering berjalan bersamaan dengan produksi, pengelolaan stok, dan pelayanan pelanggan. Akibatnya, konten bisa tertunda atau pesan masuk terlambat ditangani.

Menggunakan jasa admin media sosial dapat menjadi pilihan ketika bisnis membutuhkan bantuan dalam menjalankan pengelolaan akun secara lebih teratur. Sebelum menentukan layanan, petakan kebutuhan yang paling mendesak, seperti perencanaan konten, jadwal publikasi, atau pengelolaan interaksi pelanggan.

Jika Anda ingin mendukung langkah UMKM go digital dengan pemasaran yang lebih terarah, gunakan jasa admin media sosial dari Quadrant Communication. Konsultasikan kebutuhan bisnis Anda untuk menentukan pengelolaan media sosial yang sesuai dengan target pelanggan, tujuan pemasaran, dan kapasitas usaha.