Ketika menjalankan digital marketing, banyak UMKM masih menjadikan jumlah followers sebagai tolok ukur keberhasilan. Padahal, followers yang banyak belum tentu menghasilkan interaksi maupun penjualan.
Untuk mengetahui hasil pemasaran secara lebih akurat, UMKM perlu memantau Key Performance Indicator (KPI) yang sesuai dengan tujuan bisnis. Berikut beberapa KPI digital marketing yang penting diperhatikan selain jumlah followers seperti:
1. Reach dan Engagement
Reach menunjukkan jumlah orang yang melihat konten, baik melalui media sosial, mesin pencari, maupun platform digital lainnya. KPI ini dapat digunakan untuk mengukur seberapa luas pesan bisnis telah menjangkau calon pelanggan.
Sementara itu, engagement menunjukkan bagaimana audiens berinteraksi dengan konten. Interaksi tersebut dapat berupa likes, komentar, share, save, dan klik. Menurut Meta Business Help Center, engagement mencakup reaksi, komentar, bagikan, serta klik pada postingan.
UMKM sebaiknya tidak hanya melihat jumlah engagement, tetapi juga membandingkannya dengan jangkauan konten. Perbandingan tersebut dapat dihitung menggunakan engagement rate.
Engagement Rate = Total Engagement ÷ Reach × 100%
Sebagai contoh, sebuah konten promosi makanan menjangkau 5.000 akun dan mendapatkan 250 interaksi. Artinya, konten tersebut memiliki engagement rate sebesar 5%.
Reach yang tinggi menunjukkan bahwa konten berhasil mendapatkan perhatian, sedangkan engagement membantu UMKM mengetahui apakah konten tersebut cukup relevan untuk mendorong respons audiens.
2. Leads dan Conversion Rate
Setelah mengetahui berapa banyak orang yang melihat dan berinteraksi dengan konten, UMKM perlu mengukur berapa banyak audiens yang melakukan tindakan lebih lanjut.
Tindakan tersebut dapat disebut sebagai conversion. Bentuknya tidak selalu berupa pembelian, tetapi dapat disesuaikan dengan tujuan pemasaran. Misalnya, mengeklik tombol WhatsApp, mengirim pesan, mengisi formulir, melakukan reservasi, atau membeli produk.
Google Analytics menjelaskan bahwa conversion berasal dari aktivitas atau event yang dianggap penting bagi bisnis. Data tersebut membantu bisnis memahami dan mengoptimalkan kampanye pemasaran.
UMKM dapat mengukurnya melalui conversion rate dengan rumus:
Conversion Rate = Jumlah Conversion ÷ Jumlah Pengunjung × 100%
Misalnya, sebuah landing page memperoleh 1.000 pengunjung dan menghasilkan 50 pesanan. Dengan demikian, conversion rate yang diperoleh adalah 5%.
KPI ini memberikan informasi yang lebih dekat dengan hasil bisnis dibandingkan jumlah followers. Jika traffic cukup tinggi tetapi conversion rate rendah, UMKM perlu mengevaluasi penawaran, harga, tampilan halaman, proses pemesanan, atau ajakan bertindak yang digunakan.
3. Customer Acquisition Cost
Mendapatkan pelanggan baru tentu menjadi hasil yang positif. Namun, UMKM juga perlu mengetahui berapa biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh setiap pelanggan tersebut.
KPI ini disebut Customer Acquisition Cost atau CAC. Menurut Corporate Finance Institute, CAC dihitung dengan membagi biaya penjualan dan pemasaran dengan jumlah pelanggan baru yang diperoleh.
CAC = Total Biaya Penjualan dan Pemasaran ÷ Jumlah Pelanggan Baru
Sebagai contoh, UMKM mengeluarkan biaya pemasaran sebesar Rp2.000.000 dalam satu bulan dan memperoleh 100 pelanggan baru. Artinya, biaya untuk mendapatkan satu pelanggan adalah Rp20.000.
CAC kemudian perlu dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh dari setiap pelanggan. Jika biaya mendapatkan pelanggan lebih tinggi daripada keuntungan yang dihasilkan, strategi pemasaran tersebut perlu dievaluasi.
4. ROAS dan Repeat Purchase Rate
Bagi UMKM yang menggunakan iklan digital, Return on Ad Spend atau ROAS menjadi salah satu KPI penting. ROAS menunjukkan besarnya pendapatan yang diperoleh dari setiap biaya yang dikeluarkan untuk iklan.
ROAS = Pendapatan dari Iklan ÷ Biaya Iklan
Sebagai contoh, biaya iklan sebesar Rp1.000.000 menghasilkan pendapatan Rp4.000.000. Artinya, iklan tersebut memiliki ROAS sebesar 4 atau 400%. Namun, pendapatan tersebut belum tentu menjadi keuntungan bersih karena masih terdapat biaya produksi, distribusi, dan operasional.
Selain mendatangkan pelanggan baru, UMKM juga perlu mengukur berapa banyak pelanggan yang kembali melakukan pembelian. Hal tersebut dapat dilihat melalui repeat purchase rate.
Repeat Purchase Rate = Pelanggan yang Membeli Kembali ÷ Total Pelanggan × 100%
Menurut Wall Street Prep, repeat purchase rate menunjukkan proporsi pelanggan yang melakukan pembelian kembali dari keseluruhan pelanggan.
KPI ini penting karena keberhasilan pemasaran tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mendapatkan pelanggan baru, tetapi juga mempertahankan pelanggan lama.
Pada akhirnya, followers tetap dapat digunakan untuk melihat perkembangan audiens. Namun, jumlah followers tidak cukup untuk menggambarkan keberhasilan digital marketing. UMKM perlu melihat apakah konten menjangkau audiens yang tepat, menghasilkan interaksi, mendatangkan pelanggan, dan memberikan pendapatan.
Dengan memilih KPI yang sesuai tujuan bisnis, UMKM dapat mengambil keputusan pemasaran berdasarkan data, bukan hanya berdasarkan angka yang terlihat menarik di media sosial.
Jika saat ini Anda sedang mencari partner untuk merancang dan menjalankan kampanye digital marketing secara terukur, Quadrant Communication siap membantu bisnis Anda mencapai target yang telah ditetapkan. Hubungi Quadrant Communication untuk mendiskusikan kebutuhan pemasaran bisnis Anda.





